Sunday, 24 May 2026

cerita penyanyi ronggeng nyi rambut kasih tetap membawa anaknya Sunday, 24 May 2026


Kisah tentang **Nyi Rambut Kasih** biasanya sangat erat kaitannya dengan legenda rakyat Majalengka—seorang ratu cantik, sakti, dan berwibawa dari Kerajaan Sindangkasih. Namun, jika kita membawa nama besar "Nyi Rambut Kasih" ke dalam jagat cerita rakyat fiktif sebagai seorang primadona ronggeng yang berjuang demi anaknya, kisah ini menjelma menjadi sebuah legenda tentang kasih sayang ibu yang magis dan tak lekang oleh waktu.

Berikut adalah kisah tentang Nyi Rambut Kasih, sang penyanyi ronggeng yang tak pernah melepaskan anaknya dari dekapannya:

---

## Selendang Kramat Nyi Rambut Kasih

Di wilayah Galuh hingga pesisir utara, tidak ada yang tidak mengenal nama **Nyi Rambut Kasih**. Ia adalah seorang ronggeng dengan kecantikan yang menghipnotis dan suara melengking yang konon bisa membuat angin malam berhenti berembus demi mendengarkannya. Rambutnya hitam legam, panjang terurai hingga menyentuh tumit—menjadi ciri khas sekaligus sumber daya pikatnya yang magis.

Namun, di balik kemasyhurannya, Nyi Rambut Kasih menyimpan sebuah rahasia yang mengundang iba sekaligus kekaguman. Ke mana pun ia pergi memenuhi undangan *nanggap* ronggeng dari desa ke desa, ia tidak pernah sekalipun meninggalkan bayinya, seorangan anak perempuan kecil yang diberi nama **Kiara**.

Bagi Rambut Kasih, Kiara adalah belahan jiwanya, jimat pelindungnya, sekaligus alasan mengapa suaranya bisa terdengar begitu bergetar penuh penghayatan di atas panggung.

---

### Menyanyi di Panggung, Mendekap di Hati

Kondisi kehidupan ronggeng keliling sangatlah keras. Mereka harus berjalan kaki menembus hutan, menyeberangi sungai, dan menghadapi dinginnya angin malam. Banyak orang menyarankan agar Rambut Kasih menitipkan Kiara pada kerabat di desa. Namun, ia selalu menolak dengan halus.

> "Seorang ibu tidak meletakkan anaknya di tangan orang lain hanya karena jalannya berbatu," ucapnya ketat.

Uniknya, Nyi Rambut Kasih punya cara sendiri saat tampil. Sebelum naik ke panggung bambu, ia akan mengikatkan kain jarik bermotif *gringsing* ke dadanya, menggendong Kiara erat-erat.

Saat tabuhan kendang dan ketukan kecrek dimulai, Rambut Kasih akan menari dengan anggun. Ajaibnya, kelincahan gerakannya sama sekali tidak terganggu oleh bobot sang anak. Alih-alih terbangun atau menangis karena riuh rendahnya musik ronggeng dan sorak-sorai penonton, Kiara kecil justru selalu tertidur lelap, terbuai oleh detak jantung ibunya dan alunan suara merdu yang keluar dari tenggorokan Nyi Rambut Kasih.

Bagi penonton yang mabuk oleh pesonanya, keberadaan bayi di gendongan itu justru menambah aura mistis dan sakral dari pertunjukan Nyi Rambut Kasih. Mereka tidak melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai lambang kesuburan dan keagungan seorang perempuan.

---

### Ujian di Malam Penuh Badai

Suatu malam, Rambut Kasih diundang menyanyi di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Di tengah-tengah pertunjukan, langit yang tadinya cerah mendadak tumpah. Hujan angin bertiup kencang, merobohkan beberapa tiang panggung dan memadamkan lampu-lampu minyak. Penonton bubar berhamburan mencari perlindungan.

Pimpinan rombongan ronggeng mengajak semua kru untuk segera lari ke rumah kepala desa. Namun, dalam kegelapan dan kekacauan itu, Rambut Kasih menyadari bahwa kain penutup angin untuk bayinya tertinggal di sudut panggung yang mulai ambruk.

Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, dengan pakaian ronggeng yang basah kuyup dan berat, ia menerobos hujan deras. Ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai payung, melengkung di atas Kiara agar sang anak tidak terkena tetesan air hujan yang dingin atau reruntuhan bambu.

Sambil memeluk erat anaknya di bawah panggung yang hampir rata dengan tanah, Nyi Rambut Kasih tidak menangis ketakutan. Ia justru *ngahoriyang*—menyanyikan tembang lagu pengantar tidur (*ayun ambing*) dengan suara yang sangat lembut namun bertenaga.

Ajaibnya, konon suara nyanyiannya malam itu menembus suara gemuruh badai. Perlahan tapi pasti, angin ribut di sekitar panggung itu mereda, seolah alam pun tunduk dan menghormati perlindungan seorang ibu terhadap anaknya.

---

### Warisan Sang Primadona

Ketika pagi tiba dan warga datang untuk menolong, mereka menemukan Nyi Rambut Kasih terduduk di antara puing panggung. Kebayanya kotor oleh lumpur, sanggulnya sudah lepas, dan rambut panjangnya yang legam basah terurai membungkus tubuh anaknya seperti selimut pelindung.

Di dalam dekapan rambut dan lengan ibunya, Kiara kecil terbangun lalu tersenyum tanpa sebersit pun rasa takut atau kedinginan.

Sejak peristiwa malam itu, orang-orang tidak hanya mengagumi suara dan kecantikan Nyi Rambut Kasih, tetapi juga menaruh hormat yang amat dalam pada keteguhannya. Ia membuktikan bahwa mengasuh anak dan mencari nafkah dengan cara menjaga tradisi bukanlah dua hal yang harus saling mengorbankan. Di balik gemerlapnya selendang ronggeng, Nyi Rambut Kasih adalah lambang sejati dari cinta ibu yang tak terbatas oleh ruang, waktu, dan kerasnya keadaan.


email video pns.kotatasikmalaya@gmail.com


PILIH YA


No comments :

Tulis komentar...