Dalam bab ini terdapat dua pasal utama: Pasal Pertama menerangkan tentang pahala dan keuntungan mendirikan shalat, sedangkan Pasal Kedua membahas peringatan serta ancaman bagi siapa saja yang melalaikan shalat.

Pasal Pertama: Keutamaan Shalat

Hadits Ke-1: Rukun Islam dan Tiang Agama

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ»

Artinya: "Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.'"
(Muttafaqun 'Alaih: H.R. Bukhari No. 8 & Muslim No. 16. Dirwayatkan pula oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib)

Penjelasan dan Perumpamaan Hadits

Kelima perkara di atas merupakan asas terbesar dan rukun terpenting dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW menggambarkan agama Islam layaknya sebuah kemah kokoh yang disangga oleh lima batang tiang:

  • Tiang Utama (Tengah): Kalimah Syahadat. Tanpa tiang tengah ini, kemah tidak akan pernah bisa berdiri tegak.
  • Empat Tiang Pendukung (Sudut): Shalat, Zakat, Haji, dan Puasa Ramadhan. Jika salah satu tiang sudut ini runtuh, kemah tersebut masih bisa berdiri tetapi dalam kondisi miring, rapuh, dan tidak sempurna.

Setelah memahami hadits ini, marilah kita mengintrospeksi diri: Sejauh manakah kita telah menegakkan tiang-tiang Islam ini dalam kehidupan sehari-hari? Tiang manakah yang sudah kita jaga dengan sempurna?

Meskipun tidak semua muslim mampu menunaikan ibadah haji atau zakat karena batasan harta dan fisik, shalat adalah kewajiban mutlak yang wajib dijaga oleh setiap insan yang beriman. Shalat merupakan perkara terpenting dan paling dicintai oleh Allah SWT setelah keimanan.

Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:
"Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah SWT?"
Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya."
Saya bertanya lagi: "Kemudian apa lagi setelah itu?"
Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua."
Saya bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?"
Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah."

Kedudukan Shalat Menurut Para Ulama

Mulla Ali Qari rahimahullah menjelaskan bahwa berdasarkan kesepakatan para ulama, hadits ini menjadi dalil tegas bahwa shalat adalah kewajiban agama yang paling utama setelah syahadat/iman. Hal ini diperkuat oleh hadits shahih lainnya:

الصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ

"Shalat adalah sebaik-baik amalan yang ditetapkan Allah untuk hamba-Nya."

Terdapat banyak riwayat shahih lain yang menegaskan keutamaan shalat. Dalam kitab Jami'ush Shaghir, lima orang sahabat Nabi r.a. (yaitu Tsauban, Ibnu Umar, Salmah, Abu Umamah, dan Ubadah r.a.) turut meriwayatkan keutamaan amalan ini.

Selain itu, riwayat dari Ibnu Mas'ud, Anas, Ibnu Umar, dan Ummu Farwah r.a. menyimpulkan pesan senada: **amalan yang paling utama adalah shalat tepat pada awal waktunya**. Semua dalil tersebut mengarahkan pada satu kesimpulan mutlak, yaitu **shalat merupakan perintah dan ibadah terpenting setelah beriman kepada Allah SWT**.