Mia Maryati - Penulis Kuliner
Mia Maryati
Penulis Kuliner • Author

Ibu rumah tangga & food blogger sejak 2018. Semua resep telah diuji di dapur sendiri. Spesialis camilan tradisional & resep masak kekinian.

Saturday, 20 May 2023

EPISODE 2 : Tahun Gajah Abrahah dan Penyerangan Ka_bah

EPISODE 2 : Tahun Gajah Abrahah dan Penyerangan Ka_bah

Episode 2 : Tahun Gajah — Raja Abrahah dan Penyerangan Ka'bah

Catatan Edukasi: Video pembelajaran yang sangat bagus dan edukatif. Sangat cocok disaksikan bersama anak-anak untuk menanamkan rasa cinta kepada sejarah Islam serta memetik pesan moral yang berharga.
Ilustrasi Pasukan Bergajah Abrahah Menyerang Ka'bah

Niat Dengki Raja Abrahah dan Gereja Al-Qalis

Tahun kelahiran Rasulullah SAW senantiasa dihubungkan dengan peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai Tahun Gajah (570 M). Peristiwa spektakuler ini terjadi ketika Abrahah al-Asyram, seorang penguasa zalim dari Yaman, memimpin pasukan besar dengan niat bulat untuk meratakan Ka'bah di Makkah.

Kedengkian Abrahah bermula ketika ia membangun sebuah gereja yang sangat megah dan indah di Sana'a, Yaman, yang diberi nama Al-Qalis. Abrahah berharap gereja tersebut dapat memalingkan bangsa Arab dari Makkah dan menjadikannya sebagai pusat peribadatan terbesar di seluruh wilayah Arab. Namun, usaha tersebut gagal total karena bangsa Arab tetap mencintai dan mengagungkan Ka'bah sebagai rumah ibadah suci peninggalan Nabi Ibrahim AS.

Musyawarah Abdul Muthalib dan Pasukan Bergajah

Didorong rasa marah dan ambisi yang tinggi, Abrahah menyusun pasukan tempur berkekuatan besar yang dilengkapi dengan gajah-gajah perang raksasa—yang dipimpin oleh seekor gajah terbesar bernama Mahmud. Kedatangan pasukan penjelajah ini membuat warga Makkah merasa terancam.

Sebelum melakukan penyerangan, pasukan Abrahah merampas harta benda warga Makkah, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad SAW yang menjadi pemimpin kaum Quraisy). Dengan penuh keberanian dan ketenangan, Abdul Muthalib menemui Abrahah secara langsung. Abrahah mengira Abdul Muthalib akan memohon agar Ka'bah tidak dihancurkan, namun Abdul Muthalib justru hanya meminta kembali 200 ekor unta miliknya yang dirampas.

Abrahah yang terheran-heran bertanya mengapa ia hanya memikirkan unta dan bukannya keselamatan Ka'bah. Abdul Muthalib menjawab dengan kalimat perkasa yang legendaris: "Aku adalah pemilik unta-unta itu. Sedangkan Rumah Suci (Ka'bah) ini memiliki Pemiliknya sendiri yang akan melindunginya."

Keajaiban Burung Ababil dan Kebinasaan Abrahah

Atas arahan Abdul Muthalib, seluruh warga Makkah mengungsikan diri ke bukit-bukit di sekitar kota untuk menyelamatkan diri. Ketika pasukan Abrahah mulai bergerak mendekati Ka'bah, keajaiban pun terjadi. Gajah Mahmud yang menjadi pemimpin tiba-tiba bersimpuh dan enggan melangkahkan kaki menuju Makkah, meski telah dipukul dan dipaksa. Namun, jika dihadapkan ke arah lain, gajah itu langsung bergerak cepat.

Tak lama kemudian, Allah SWT mengirimkan pertolongan berupa kawanan **Burung Ababil** yang berterbangan di angkasa secara berbondong-bondong. Setiap burung membawa tiga buah batu kecil yang terbakar dari neraka (Sijjiil)—satu di paruh dan dua di cakar kaki mereka.

Burung-burung tersebut menjatuhkan batu-batu panas itu tepat di atas pasukan Abrahah. Batu kecil tersebut menembus tubuh mereka hingga seluruh pasukan bergajah hancur binasa dan bergelimpangan layaknya "daun-daun yang dimakan ulat". Raja Abrahah sendiri menderita luka-luka parah hingga akhirnya tewas secara mengenaskan.

πŸ’‘ Pesan Moral & Hikmah Pembelajaran:

  • Perlindungan Allah SWT: Allah senantiasa menjaga rumah suci-Nya dan orang-orang yang beriman dari kejahatan musuh.
  • Bahaya Keangkuhan & Kesombongan: Kekuatan fisik, kekayaan, dan jumlah pasukan yang besar tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT.
  • Keteguhan Hati Abdul Muthalib: Mengajarkan keyakinan serta tawakal yang tinggi kepada takdir Allah SWT.
  • Kelahiran Sang Nabi: Peristiwa ini menjadi pertanda mulia (Irhāṣ) menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW di tahun yang sama.

Peristiwa dahsyat ini diabadikan secara sempurna dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Fil (105) ayat 1-5, sebagai bentuk peringatan bagi seluruh manusia tentang pentingnya rasa syukur dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.