16. Pura Pancering Jagat Trunyan: Sejarah Arca Megalitikum Ratu Sakti dan Tradisi Barong Brutuk
✓
KELURAHAN SUKAMANAH • Pemerintah Kota Tasikmalaya
Pura Pancering Jagat Trunyan: Sejarah Arca Megalitikum Ratu Sakti dan Tradisi Barong Brutuk
🏔️ Sejarah Desa Trunyan & Bali Aga
Desa Trunyan adalah salah satu Desa Bali Aga (Bali Asli) yang paling terisolasi, terletak di tepi timur Danau Batur, Kintamani, Bangli. Kata Trunyan berasal dari Taru Menyan — pohon kemenyan yang harum yang konon hanya tumbuh di desa ini.
Berbeda dengan masyarakat Bali Dataran yang menganut Hindu Dharma modern, masyarakat Trunyan masih mempertahankan tradisi animisme megalitikum yang lebih tua. Mereka tidak menganut sistem kasta dan tidak melakukan Ngaben (kremasi). Inilah yang membuat Desa Trunyan begitu unik dan sudah kami bahas sebagai salah satu daya tarik wisata spiritual paling autentik.
Pura Pancering Jagat adalah pura tertua dan paling suci di Trunyan, menjadi pusat orientasi kosmologi mereka — bukan Gunung Agung seperti desa Bali lainnya, tetapi Gunung Abang dan Danau Batur.
🗿 Arca Ratu Sakti Pancering Jagat Megalitikum
Di dalam Pura Pancering Jagat terdapat Arca Ratu Sakti Pancering Jagat — arca megalitikum setinggi sekitar 4 meter yang menjadi arca tertinggi dan paling sakral di Trunyan.
Asal Usul Megalitikum
Arca ini dipercaya berasal dari zaman megalitikum (zaman batu besar) sekitar 2000 tahun lalu, jauh sebelum pengaruh Hindu Jawa masuk ke Bali. Bentuknya sederhana: tubuh besar, mata melot, dan tidak seperti arca Hindu pada umumnya yang halus.
Masyarakat Trunyan meyakini arca ini adalah perwujudan Ratu Sakti Pancering Jagat — pasangan dari Ratu Gede Pancering Jagat (berbentuk arca laki-laki) yang stana-nya ada di Pura Ratu Gede. Keduanya adalah leluhur tertinggi dan penjaga Desa Trunyan.
Dewi Danu & Kesuburan
Ratu Sakti juga diidentikkan sebagai Dewi Danu — Dewi Danau Batur yang memberikan kesuburan dan air. Setiap upacara besar, masyarakat memohon kesuburan dan hujan kepada beliau. Tidak heran jika Pura ini selalu penuh sesajen canang dan banten.
🏛️ Struktur Pura Pancering Jagat
Berbeda dengan Pura Agung Besakih atau Pura Basukian yang megah dengan meru bertingkat, Pura Pancering Jagat sangat sederhana — ciri khas Pura Bali Aga:
🎭 Tradisi Sakral Barong Brutuk
Tradisi paling terkenal dari Pura Pancering Jagat adalah Barong Brutuk — tarian sakral yang hanya muncul sekali setahun saat Upacara Brata Gede.
Asal Usul Barong Brutuk
Konon, Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Gede Pancering Jagat adalah pasangan raja-raja Trunyan. Untuk merayakan kesuburan desa, para pemuda desa menarikan Barong Brutuk sebagai simbol pertemuan laki-laki dan perempuan, simbol kesuburan.
Aturan Super Ketat
- Penari Barong Brutuk harus perjaka (belum pernah menikah) dan dipilih oleh Jero Kubayan (pemimpin adat).
- Mereka dikurung di Pura Pancering Jagat selama 21 hari tanpa boleh keluar, tidak boleh bertemu wanita, dan hanya makan makanan tertentu.
- Kostum Barong Brutuk terbuat dari daun pisang kering (kropak) yang dirangkai, topengnya sangat primitif tanpa ukiran halus.
- Saat menari, mereka dianggap kerasukan Ratu Sakti dan Ratu Gede, sehingga gerakan mereka tidak sadar dan sangat sakral.
- Wisatawan boleh menonton, tetapi dilarang menyentuh kostum dan wajib diam serta tidak menggunakan flash.
Tradisi ini mirip dengan tradisi sakral di Desa Trunyan yang menjaga keaslian Bali Aga. Untuk waktu terbaik menyaksikannya, cek kalender Saka Bali karena upacara ini mengikuti sasih keempat.
🔗 Hubungan dengan Pura Besakih & Batur
Meskipun Trunyan adalah Bali Aga, mereka tetap memiliki hubungan spiritual dengan:
- Pura Ulun Danu Batur: Karena sama-sama memuja Dewi Danu sebagai dewi danau dan kesuburan.
- Pura Agung Besakih: Sebagai Mother Temple, Besakih tetap dihormati sebagai pura terbesar, meskipun orientasi Trunyan lebih ke Danau Batur.
- Pura Puseh Batuan: Sebagai pura tertua di Bali Dataran yang juga menyimpan sejarah Bali kuno.
🧭 Panduan Wisata ke Trunyan
❓ FAQ Pura Pancering Jagat Trunyan
Pura tertua dan paling suci di Desa Trunyan, pusat spiritual Desa Bali Aga yang menyimpan Arca Ratu Sakti Pancering Jagat setinggi 4 meter dari zaman megalitikum.
Sekitar 4 meter, arca megalitikum tertinggi di Bali dan dipercaya berusia lebih dari 2000 tahun, stana dari Dewi Danu dan leluhur Trunyan.
Tarian sakral topeng daun pisang kering yang hanya ditarikan oleh pemuda perjaka terpilih setelah dikurung 21 hari di Pura Pancering Jagat. Hanya muncul setahun sekali saat Brata Gede.
Boleh dengan izin Jero Kubayan dan memakai pakaian adat. Dilarang masuk saat upacara tertutup dan dilarang menyentuh arca. Harus didampingi guide lokal.
✨ Kesimpulan
Pura Pancering Jagat Trunyan adalah jendela ke Bali yang paling kuno — sebelum Hindu Jawa, sebelum Majapahit, sebelum pariwisata. Arca megalitikum Ratu Sakti setinggi 4 meter dan tradisi Barong Brutuk yang masih hidup adalah bukti bahwa Bali memiliki lapisan spiritual yang jauh lebih tua dari yang kita lihat di Tanah Lot atau Tirta Empul.
Jika kamu sudah mengunjungi Pura Basukian sebagai cikal bakal Besakih dan 7 Pura Sakral Bali, maka Pura Pancering Jagat melengkapi pemahamanmu tentang Bali Aga — Bali yang asli, liar, dan magis di tepi Danau Batur.
Dirancang oleh: miablog.web.id
Ditulis oleh: I Gde Riski Murdhaka, S.IP. & Mia Maryati, A.Md.
Dikembangkan dengan bantuan: Meta AI — Referensi: https://www.miablog.web.id/2026/08/metta-ai.html