Saturday, 3 January 2026

Desa Trunyan Saturday, 3 January 2026

Desa Trunyan adalah desa adat kuno di tepi timur Danau Batur, Kintamani, Bali, yang dihuni oleh masyarakat Bali Aga (penduduk asli Bali). Hingga tahun 2025, desa ini tetap menjadi destinasi wisata budaya populer karena tradisi pemakamannya yang unik dan berbeda dari tradisi Ngaben pada umumnya. 

Trunyan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk mencapai Trunyan dengan menyeberang melalui Desa Kedisan menggunakan perahu sekitar 45 menit jarak dari Kota Denpasar ± 65 km.

Tradisi Pemakaman (Mepasah)

Keunikan utama Desa Trunyan adalah jenazah warganya tidak dibakar atau dikubur di dalam tanah, melainkan hanya diletakkan di atas permukaan tanah di bawah pohon Taru Menyan. 

  • Tanpa Bau Busuk: Meskipun jenazah dibiarkan terbuka hanya ditutupi anyaman bambu (ancak saji), area pemakaman ini tidak mengeluarkan bau busuk karena diyakini diserap oleh aroma harum dari pohon Taru Menyan.
  • Syarat Khusus: Tradisi ini hanya berlaku bagi warga yang meninggal secara wajar, sudah menikah, dan memiliki anggota tubuh lengkap. Jenazah yang tidak memenuhi syarat (seperti anak-anak atau korban kecelakaan) akan dikubur di lokasi berbeda bernama Sema Muda atau Sema Bantas. 

Budaya dan Objek Wisata Lain

  • Barong Brutuk: Kesenian sakral yang dipentaskan setiap dua tahun sekali di Pura Pancering Jagat. Penarinya mengenakan kostum dari daun pisang kering dan topeng khusus.
  • Bukit Trunyan: Populer di kalangan pendaki pemula karena menawarkan pemandangan matahari terbit dengan latar belakang Gunung Batur dan Danau Batur.
  • Larangan bagi Wanita: Terdapat kepercayaan lokal bahwa wanita dilarang mengunjungi area pemakaman karena dikhawatirkan dapat memicu bencana alam seperti gempa bumi. 

Cara Menuju dan Akses (2025)

Desa Trunyan cukup terisolasi oleh tebing dan danau.

  • Penyeberangan: Wisatawan biasanya menyeberang menggunakan perahu dari Dermaga Kedisan atau Songan dengan waktu tempuh sekitar 30–45 menit.
  • Biaya (Estimasi 2025): Harga sewa perahu berkisar antara Rp 190.000 hingga Rp 1.000.000, tergantung pada jumlah peserta dan paket yang diambil.
  • Tips Kunjungan: Sangat disarankan menggunakan pemandu lokal untuk mendapatkan konteks budaya yang akurat dan menghindari biaya transportasi yang tidak transparan. Wisatawan juga wajib berpakaian sopan dan dilarang mengambil barang apa pun dari area pemakaman.



Sejarah Desa Trunyan

Trunyan merupakan salah satu Desa Tua di Bali yang masih menggunakan beberapa cara lama dalam beberapa tatanan kehidupan masyarakatnya. Diantaranya adalah cara penguburan mayat (jenazah). Masyarakat Trunyan mempunyai tradisi pemakaman dimana jenazah dimakamkan di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Jenazah hanya dipagari dengan anyaman bambu. Desa ini memiliki 3 sema (kuburan) yang diperuntukkan bagi 3 jenis kematian yang berbeda. Apabila seorang warga Trunyan meninggal secara wajar, mayatnya akan ditutupi dengan kain putih, diupacarai kemudian diletakkan tanpa dikubur dibawah pohon besar bernama Taru Menyan yaitu di sebuah lokasi yang bernama Sema Wayah. Namun, apabila kematiannya tidak wajar seperti karena kecelakaan, bunuh diri, dibunuh orang maka mayatnya akan diletakkan di Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah akan diletakkan di Sema Muda. Jenasah di Desa Trunyan hanya diletakkan dan ditutupi dengan kain putih, walaupun begitu jenazah tidak menimbulkan aroma bau busuk dan tidak dihinggapi oleh serangga seperti lalat, ulat dll. Hal ini disebabkan oleh keberadaan Taru Menyan (pohon kayu Menyan) yang dapat mengeluarkan wangi harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat. Taru berarti kayu dan Menyan dapat diartikan harum. pohon kayu Menyan ini hanya tumbuh di daerah ini. Kemudian Taru Menyan lebih dikenal dengan Trunyan yang diyakini sebagai asak usul nama desa tersebut


No comments :

Tulis komentar...